Aspal Pertamina Penetrasi 60/70
Aspal Shell 60/70
Aspal Curah Pertamina
Aspal Iran
Aspal ESSO
Aspal Caltex
k-link, daftar, member, alamat, agen, distributor, stockist, kesehatan, propolis, Chlorophyll, gamat, omegaSQUA, OMEGA, pusat herbal, grosir, obat, alami
Kayu jati sering dianggap sebagai kayu dengan serat dan tekstur paling indah. Karakteristiknya yang stabil, kuat dan tahan lama membuat kayu ini menjadi pilihan utama sebagai material bahan bangunan. Termasuk kayu dengan Kelas Awet I, II dan Kelas Kuat I, II. Kayu jati juga terbukti tahan terhadap jamur, rayap dan serangga lainnya karena kandungan minyak di dalam kayu itu sendiri. Tidak ada kayu lain yang memberikan kualitas dan penampilan sebanding dengan kayu jati.
Kayu Merbau termasuk salah satu jenis kayu yang cukup keras dan stabil sebagai alternatif pembanding dengan kayu jati. Merbau juga terbukti tahan terhadap serangga. Warna kayu merbau coklat kemerahan dan kadang disertai adanya highlight kuning. Merbau memiliki tekstur serat garis terputus putus. Pohon merbau termasuk pohon hutan hujan tropis. Termasuk kayu dengan Kelas Awet I, II dan Kelas Kuat I, II. Merbau juga terbukti tahan terhadap serangga. Warna kayu merbau coklat kemerahan dan kadang disertai adanya highlight kuning. Kayu merbau biasanya difinishing dengan melamin warna gelap / tua. Merbau memiliki tekstur serat garis terputus putus. Pohon merbau termasuk pohon hutan hujan tropis. Pohon Merbau tumbuh subur di Indonesia, terutama di pulau Irian / Papua. Kayu merbau kami berasal dari Irian / Papua.
Kayu Bangkirai termasuk jenis kayu yang cukup awet dan kuat. Termasuk kayu dengan Kelas Awet I, II, III dan Kelas Kuat I, II. Sifat kerasnya juga disertai tingkat kegetasan yang tinggi sehingga mudah muncul retak rambut dipermukaan. Selain itu, pada kayu bangkirai sering dijumpai adanya pinhole. Umumnya retak rambut dan pin hole ini dapat ditutupi dengan wood filler. Secara struktural, pin hole ini tidak mengurangi kekuatan kayu bangkirai itu sendiri. Karena kuatnya, kayu ini sering digunakan untuk material konstruksi berat seperti atap kayu. Kayu bangkirai termasuk jenis kayu yang tahan terhadap cuaca sehingga sering menjadi pilihan bahan material untuk di luar bangunan / eksterior seperti lis plank, outdoor flooring / decking, dll. Pohon Bangkirai banyak ditemukan di hutan hujan tropis di pulau Kalimantan. Kayu berwarna kuning dan kadang agak kecoklatan, oleh karena itulah disebut yellow balau. Perbedaan antara kayu gubal dan kayu teras cukup jelas, dengan warna gubal lebih terang. Pada saat baru saja dibelah/potong, bagian kayu teras kadang terlihat coklat kemerahan.
kayu kamper telah lama menjadi alternatif bahan bangunan yang harganya lebih terjangkau. Meskipun tidak setahan lama kayu jati dan sekuat bangkirai, kamper memiliki serat kayu yang halus dan indah sehingga sering menjadi pilihan bahan membuat pintu panil dan jendela. Karena tidak segetas bangkirai, retak rambut jarang ditemui. Karena tidak sekeras bangkirai, kecenderungan berubah bentuk juga besar, sehingga, tidak disarankan untuk pintu dan jendela dengan desain terlalu lebar dan tinggi. Termasuk kayu dengan Kelas Awet II, III dan Kelas Kuat II, I. Pohon kamper banyak ditemui di hutan hujan tropis di kalimantan. Samarinda adalah daerah yang terkenal menghasilkan kamper dengan serat lebih halus dibandingkan daerah lain di Kalimantan.
Kayu kelapa adalah salah satu sumber kayu alternatif baru yang berasal dari perkebunan kelapa yang sudah tidak menghasilkan lagi (berumur 60 tahun keatas) sehingga harus ditebang untuk diganti dengan bibit pohon yang baru. Sebenarnya pohon kelapa termasuk jenis palem. Semua bagian dari pohon kelapa adalah serat /fiber yaitu berbentuk garis pendek-pendek. Anda tidak akan menemukan alur serat lurus dan serat mahkota pada kayu kelapa karena semua bagiannya adalah fiber. Tidak juga ditemukan mata kayu karena pohon kelapa tidak ada ranting/ cabang. Pohon kelapa tumbuh subur di sepanjang pantai Indonesia. Namun, yang paling terkenal dengan warnanya yang coklat gelap adalah dari Sulawesi. Pohon kelapa di jawa umumnya berwarna terang.
Kayu meranti merah termasuk jenis kayu keras, warnanya merah muda tua hingga merah muda pucat, namun tidak sepucat meranti putih. selain bertekstur tidak terlalu halus, kayu meranti juga tidak begitu tahan terhadap cuaca, sehingga tidak dianjurkan untuk dipakai di luar ruangan. Termasuk kayu dengan Kelas Awet III, IV dan Kelas Kuat II, IV. Pohon meranti banyak ditemui di hutan di pulau kalimantan
Botanical Name: Hevea brasiliensis
Kayu gelam sering digunakan pada bagian perumahan, perahu,
Kayu ini banyak digunakan untuk bahan bangunan rumah, kantor, gedung, serta bangunan lainnya. Berdasarkan catatan, kayu ulin merupakan salah satu jenis kayu hutan tropika basah yang tumbuh secara alami di wilayah Sumatera Bagian Selatan dan Kalimantan.
Kayu Akasia (acacia mangium), mempunyai berat jenis rata-rata 0,75 berarti pori-pori dan seratnya cukup rapat sehingga daya serap airnya kecil. Kelas awetnya II, yang berarti mampu bertahan sampai 20 tahun keatas, bila diolah dengan baik. Kelas kuatnya II-I, yang berarti mampu menahan lentur diatas 1100 kg/cm2 dan mengantisipasi kuat desak diatas 650 kg/cm2. Berdasarkan sifat kembang susut kayu yang kecil, daya retaknya rendah, kekerasannya sedang dan bertekstur agak kasar serta berserat lurus berpadu, maka kayu ini mempunyai sifat pengerjaan mudah, sehingga banyak diminati untuk digunakan sebagai bahan konstruksi maupun bahan meibel-furnitur.

1. agathis 2. Akasia 3. Ampupu 4. Bakau 5. Balau 6. Balsa 7. Bangkirai 8. Bawang 9. Bayur 10. Bedaru 11. Balangeran 12. Benuang 13. Benuang laki 14. Berumbung 15. Bintangur 16. Bongin 17. Bugis 18. Bungur 19. Cemara 20. Cempaga 21. Cempaka 22. Cendana 23. Cengal 24. Dahu 25. Damar laut 26. Dungun 27. Durian 28. Eboni 29. Gadog 30. Gelam 31. Gerunggang 32. Gia 33. Giam | 34. Gisok 35. Gofasa 36. Jabon 37. Jangkang 38. Jati 39. Jelutung 40. Jeungjing 41. Johar 42. Kamper 43. Kapuk hutan 44. Kapur 45. Kecapi 46. Kedemba 47. Kelapa 48. Kemenyan 49. Kemiri 50. Kempas 51. Kenanga 52. Kenari 53. Keranji 54. Keruing 55. Ketapang 56. Kolaka 57. Kuku 58. Kulim 59. Kupang 60. Laban 61. Lara 62. Lasi 63. Leda 64. Mahang 65. Mahoni 66. Malas | 67. Matoa 68. Medang 69. Melur 70. Membacang 71. Mendarahan 72. Menjalin 73. Mensira gunung 74. Mentibu 75. Merambung 76. Meranti Merah 77. Meranti Kuning 78. Meranti Putih 79. Merawan 80. Merbau 81. Merpayang 82. Mersawa 83. Mindi 84. Nyatoh 85. Nyirih 86. Palapi 87. Pasang 88. Patin 89. Pelawan 90. Perepat darat 91. Perepat laut 92. Perupuk 93. Petaling 94. Petanang 95. Pilang 96. Pimping 97. Pinang 98. Pinus 99. Pulai | 100. Punak 101. Puspa 102. Putat 103. Ramin 104. Rengas 105. Rengas burung 106. Resak 107. Salimuli 108. Sampang 109. Saninten 110. Sawo 111. Sendok-sendok 112. Sengon 113. Simpur 114. Sindur 115. Sonokeling 116. Sonokembang 117. Sungkai 118. Surian 119. Tanjung 120. Tembesu 121. Tempinis 122. Tepis 123. Teraling 124. Terap 125. Terentang 126. Tingi 127. Trembesi 128. Tualang 129. Tusam 130. Ulin 131. Weru |
| KELAS A | Digunakan untuk sumur sampai dengan kedalaman 1830 meter, apabila sifat-sifat khusus tidak dipersyaratkan |
| KELAS B | Digunakan untuk sumur sampai dengan kedalaman 1830 meter, apabila kondisi membutuhkan tahan terhadap sulfat sedang |
| KELAS C | Digunakan untuk sumur sampai dengan kedalaman 1830 meter, apabila kondisi membutuhkan sifat kekuatan tekan awal yang tinggi |
| KELAS D | Digunakan untuk sumur sampai dengan kedalaman 1830 sampai 3050 meter, dengan kondisi suhu dan tekanan yang sedang |
| KELAS E | Digunakan untuk sumur sampai dengan kedalaman 3050 sampai 4270 meter, dengan kondisi suhu dan tekanan yang tinggi |
| KELAS F | Digunakan untuk sumur sampai dengan kedalaman 3050 sampai 4880 meter, dengan kondisi suhu dan tekanan yang tinggi |
| KELAS G | Digunakan untuk cementing mulai surface casing sampai dengan kedalaman 2440 meter, akan tetapi dengan penambahan accelerator atau retarder. Dapat digunakan untuk semua range pemakaian, mulai dari kelas A sampai kelas E |
- Type II/A-M mengandung 6 – 20 % aditif
- Type II/B-M mengandung 21 – 35 % aditif